Yang Melebihi Ibadah

Adik-Adik tersayang, Rasulullah SAW pernah menceritakan kepada para sahabatnya sebuah kisah yang disampaikan Jibril A.S kepada beliau. Ini dia Kisahnya…


Ada seorang hamba yang telah menyembah ALLAH SWT selama lima ratus tahun. Orang itu tinggal di sebuah bukit yang panjang dan lebarnya tiga puluh kali tiga puluh hasta. Bukit itu dikelilingi lautan luas dari segala penjuru. Bukit itu memiliki satu mata air sebesar ibu jari yang memancarkan air bening.


Rumah orang itu ada di kaki bukit. Setiap malam, sebutir delima jatuh dari pohon untuk memberinya makan pada keesokan harinya. Seluruh hari sepi yang dilaluinya dihabiskan untuk beribadah. jika sore menjelang, ia turun dari atas bukit dan berwudhu. Diambilnya buah delima itu dan dimakanya.

Kemudian, ia kembali dan melakukan shalat. Begitu terus selama beratus-ratus tahun...

Sebelum meninggal, ia memohon kepada ALLAH SWT, “Ya ALLAH, jangan cabut nyawaku dalam keadaan berbaring, duduk, berdiri, atau berjalan. Cabutlah ketika aku sedang bersuju dalam-dalam. Itulah saat yang paling kuinginkan dalam menjemput kematianku. Setelah itu, ya ALLAH, aku mohon kepada-Mu agar jangan kiranya tubuhku rusak dimakan tanah atau dimakan cuaca, atau dihabiskan serangga. Aku ingin tubuhku utuh dalam keadaan bersujud menyembah-Mu sampai tibanya Hari Kebangkitan kelak. Aku ingin tubuhku menjadi saksi begitu lama dan tekunnya aku menyembah-Mu.”


Maka, ALLAH SWT pun mengabulkan permohonan hamba yang shalih itu.

Ia diwafatkan dalam keadaan bersujud dan tubuhnya tidak rusak dimakan waktu. Malaikat Jibril A.S. menambahkan bahwa setiap kali turun ke bumi dan naik ke langit, ia selalu melewati jenazah hamba shalih yang sedang bersujud itu.


Kelak, akan tiba Hari Kiamat. Dari ilmu ALLAH SWT yang diberikan kepada Jibril, kita tahu apa yang terjadi pada hamba yang begitu shalih tadi pada Hari Kiamat.


Pada Hari Kiamat, hamba shalih yang telah beribadah selama lima ratus tahun itu dibangkitkan dalam keadaan bersujud dan didudukkan di hadapan ALLAH SWT.

ALLAH SWT berfirman, “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga berkat rahmat-Ku”
Si Hamba terkejut dan berkata, “Tetapi, ya Rabbi, masukkanlah aku ke dalam surga berkat amal ibadahku.”
ALLAH berfirman, “Masukkan hamba-Ku ini ke dalam surga berkat rahmat-Ku”


Tetapi si Hamba bersikeras. Ia merasa amalnya telah begitu banyak sehingga pantaslah kiranya ia dimasukkan ke dalam surga bukan hanya karena kasih sayang ALLAH SWT, tetapi juga karena amalnya itu. Maka, ia berkata lagi, "Ya Rabbi, tetapi masukkanlah aku ke dalam surga berkat amal ibadahku."

Maka, ALLAH SWT berfirman, “Timbanglah pada hamba-Ku ini antara nikmat penglihatan yang telah Kuberikan dengan amal perbuatanya.”

Penimbangan dilakukan dan didapati bahwa nikmat penglihatan jauh lebih berat dibandingkan amal ibadah selama lima ratus tahun itu. Belum lagi nimat-nikmat yang lain. ALLAH SWT memerintahkan agar hamba tadi dihadapkan kembali kepada-Nya.


Maka, orang itu didudukkan kembali di hadapan ALLAH SWT. ALLAH pun bertanya, “Wahai hamba-Ku, siapakah yang telah menciptakan kamu dari tidak ada?”

“Engkau, wahai Tuhanku.”
“Siapa yang telah memberimu kekuatan untuk beribadah selama lima ratus tahun?”
“Engkau, wahai Tuhanku.”
“Siapa Dzat yang telah menempatkanmu di sebuah bukit yang terletak di tengah-tengah deburan ombak samudra, mengeluarkan air tawar dan air asin, mengeluarkan buah delima setiap malamnya, padahal delima hanya berbuah sekali dalam setahun, dan engkau telah meminta-Nya agar mencabut nyawamu saat sedang bersujud dan dia mengabulkan permintaanmu itu?”
“Engkau, wahai Tuhanku.”

Maka ALLAH SWT berfirman, "Semua itu berkat rahmat-Ku dan dengan rahmat-Ku pula engkau masuk surga.
Masukkanlah hamba-Ku ini ke surga! Sebaik-baik hamba adalah engkau, wahai hamba-Ku."

#Gantungan Kunci Hologram 3Dimensi SPESIAL untuk Buah Hati dan Ayah&Bunda > klik disini

*Pesan Moral

Tempat kediaman manusia kelak di akhirat memang ditentukan dari amal selama di dunia, siapa yang amalnya baik akan masuk surga, amal buruk masuk neraka.

Kita bisa saja meng-klaim semua amal perbuatan baik kita adalah hasil jerih payah kita…

Tapi bagaimana dengan udara tuk bernafas, mata tuk melihat, kaki tuk melangkah, serta tangan tuk bekerja yang tanpa semua itu amal perbuatan kita takkan terwujud?

Pantaskah kita meng-claim semua fasilitas itu bukanlah rahmat dari ALLAH SWT?