2 Potong Roti

Rasulullah SAW bercerita:

Pada suatu hari di kalangan Bani Israil, ada seorang ahli ibadah. Ia menghabiskan waktu enam puluh tahun untuk terus-menerus menyembah Allah SWT di kuilnya.

Ibadah yang begitu khusyuk membuat Allah SWT ridha kepadanya. Hujan pun turun terus-meneurs di kuil dan sekitarnya. Pepohonan tumbuh menghijau, lebat, dan indah. Padahal, di sekitarnya, cuma ada tanah gersang.

Suatu hari, rahib yang rajin beribadah ini keluar kuil, dilihatnya pepohonan, langit, dan gunung-gunung di kejauhan.

“Seandainya aku turun dan melihat-lihat kebesaran Allah SWT lewat ciptaan-Nya, keimananku pasti akan bertambah,”

Demikian bisiknya sambil tersenyum.


Setelah itu, ia keluar kuil dan berjalan sambil sedikit membawa bekal. Di sepanjang jalan, ia tak henti bergumam:

“Alangkah indahnya ciptaan Allah SWT. Alangkah agungnya Sang Pencipta.”

Tiba-tiba, seorang wanita datang menemuinya dan mengajak sang rahib istirahat di tempat teduh. Wanita itu bergitu cantik sehingga sang rahib pun memuji Allah SWT:

“Alangkah indahnya ciptaan Allah SWT. Ternyata, dari semua makhluk yang Allah SWT ciptakan, tak ada yang lebih indah dan sempurna dari manusia.”


  • Namun, karena mereka hanya berdua saja, Setan datang dan menggoda dengan lebih leluasa. Rahib dan wanita yang menemuinya itu begitu asyik mengobrol sampai lupa waktu. Setan berhasil membuat rahib dan wanita itu melupakan Allah SWT.
  • Maka, Setan tertawa terbahak-bahak setelah berhasil membuat mereka melakukan perbuatan yang tidak baik. Dengan perasaan amat bersalah, sang rahib pergi dan turun ke sebuah kolam untuk mandi. Saat itu, datang seorang pengemis. Karena tak mempunyai sesuatu yang lebih baik, sang rahib memberikan bekalnya berupa dua potong roti.
  • Setelah itu, sang rahib meninggal penuh penyesalan. Di akhirat, amal ibadanya selama enam puluh tahun lebih ringan dari dosa yang dibuatnya dengan wanita itu. Namun, ketika pahala dua potong roti ditambahkan, amal kebaikannya jadi lebih berat dan Allah SWT pun mengampuninya.

Pesan Moral:

Dosa besar harus dijauhi karena bisa memperberat timbangan dosa kita pada Hari Pengadilan nanti. Hanya amal baiklah yang bisa menyeimbangkannya.