Buaya dan Burung Penyanyi

Suatu hari ada seekor buaya dan burung penyanyi. Mereka hidup dihutan dan bersahabat sangat akrab.

Suatu ketika burung penyanyi bernyanyi dihadapan buaya dengan bertengger di hidungnya. Karena sangat asiknya mereka bernyanyi dan mendengarkan suara merdu.

Tak lama kemudian buaya menguap dan membuka mulutnya lebar lebar. Burung penyanyi yang sedang bertengger di hidung buaya terpleset masuk ke dalam mulut buaya.

Lalu buaya heran “kemana burung penyanyi?”. Buaya mencari burung penyanyi di semak semak tetapi tetap tidak ada.

Lalu saat buaya sedang mencari burung penyanyi, senandung merdu keluar dari mulut buaya. kata buaya “indah sekali suaraku ” gumam buaya.

Lalu buaya menguap dan membuka mulut lebar lebar. Hampir saja buaya menutup mata ada seekor burung penyanyi yang sedang bertengger di hidungnya.

Kata burung penyanyi dengan marah ” kau sangat tidak punya hati buaya , kau biarkan aku masuk ke mulutmu. sampai aku bernyanyi, tapi kau tidak tahu aku ada di dalam mulutmu?”. Kata buaya “aku sama sekali tidak tahu kalau kau masuk ke mulutku , jadi suara yang indah itu bukan suaraku….?” .

Burung penyanyi berkata “iya , itu suaraku bukan suaramu , kau kan tidak bisa bernyanyi sepertiku suaramu itu tidak enak didengar”.

Buaya menangis setelah mendengar ucapan burung penyanyi. Lalu burung penyanyi merasa iba karena apa yang dikatakannya menyinggung perasaan buaya .

Lalu burung penyanyi mencari cara untuk menghibur buaya. Burung penyanyi berkata ” tenang buaya , kita akan menyanyi bersama”. Kata buaya” bagaimana caranya aku kan tidak bisa bernyanyi sepertimu?”.Kata burung penyanyi ” mudah saja buatlah gelembung gelembung air lalu aku bernyanyi ” .

Setelah itu buaya memasukkan mulutnya ke dalam air dan membuat gelembung gelembung air sedangkan burung penyanyi bertugas untuk bernyanyi.

Suara itu sangat pas dan sangat enak di dengar . dan buaya melakukan seperti itu setiap hari dan mereka menjadi sahabat yang setia.

Dikirim oleh Izzi Tusi Robi Arraoqi (11 Tahun) (izziarroqi @gmail. com)

Domba Cerdik dan Harimau Bodoh

Pada suatu ketika, seekor Domba jantan sedang berjalan-jalan di padang rumput. Dia mencari rumput yang enak untuk dimakan. Tidak lama kemudian, dia melihat ada hutan di dekat padang rumput itu. Karena ingin mencari tumbuh-tumbuhan selain rumput yang enak untuk dimakan, dia pun masuk ke hutan itu. Tiba-tiba dia bertemu dengan seekor Harimau. Harimau itu sangat gembira, karena dia akan segera mendapatkan makanan yang lezat. Si Domba, yang sangat ketakutan, kemudian mengajak Harimau itu berbicara.

“Siapa namamu?” tanya si Domba.
“Aku Harimau! Siapa kamu?” Harimau balik bertanya.
“Namaku Domba Yang Hebat” jawab si Domba, walaupun sebenarnya dia sangat gemetaran.
“Apa itu yang ada di kepalamu?” tanya Harimau lagi.
“Oh, itu tombak dan pedangku” jawab Domba.
“Dan apa itu yang bergantung di antara kaki belakangmu?” Harimau bertanya lagi.
“Itu bumbu-bumbu yang aku bawa untuk memasak daging harimau sebelum aku memakannya.” jawab Domba.
Harimau sekarang sangat ketakutan. Dia lalu berlari pergi secepat yang dia bisa, dan bersyukur karena dia masih hidup.

Ada seekor rubah yang melihat Harimau lari terbirit-birit. Dia kemudian bertanya, “Ada apa denganmu? Kenapa kamu lari ketakutan?”

“Domba jantan itu! Dia hampir saja membunuhku!” jawab Harimau. Dia bersenjatakan pedang dan tombak!”

Rubah yang pintar itu tertawa, lalu berkata, “Bagaimana mungkin seekor domba jantan bisa membunuh seekor harimau? Kamu pasti sudah dibodohi oleh domba itu. Ayo kita kesana dan kita beri dia pelajaran.”

Tapi Harimau berkata “Tidak, kamu nanti pasti akan lari setelah melihat domba itu, dan meninggalkan aku sendiri di sana. Tidak, aku tidak mau.”

“Aku tidak akan lari. Kalau kamu tidak percaya, kita ikat saja diri kita berdua dengan sebuah tali. Jadi, bahkan jika aku ingin lari pun aku tidak akan bisa” jawab Rubah.

Harimau setuju dengan usul si Rubah. Mereka kemudian mengikat leher mereka menjadi satu dengan menggunakan seutas tali, dan pergi berjalan mencari si Domba. Mereka menemukan si Domba sedang santai sambil makan tumbuh-tumbuhan yang lezat.

Ketika si Domba melihat si Harimau, dia berteriak, “Aha! Akhirnya kamu datang juga! Aku sudah sangat lapar! Kamu akan menjadi makanan yang lezat untukku!”
Harimau yang bodoh ketakutan mendengar perkataan si Domba. Dia lalu berbalik dan lari sekencang-kencangnya. Si Rubah berteriak-teriak meminta Harimau untuk berhenti berlari, karena dia ikut terseret. Tapi Harimau tidak mendengarnya, dan terus berlari, sampai akhirnya si Rubah mati karena terseret-seret sangat jauh melintasi hutan itu. “Rubah yang bodoh!” pikir Harimau yang bodoh itu, “Aku hampir saja mati gara-gara dia!”

Cerita ini diadaptasi cari cerita rakyat Mongolia berjudul “The Wise Ram.” Diceritakan oleh Keisya.

Baca dongeng berikutnya : Singa dan Tikus

Singa dan Tikus

Seekor singa sedang tidur. Tiba-tiba, ada seekor tikus yang lewat di depan wajahnya, dan membuatnya terbangun. Singa itu pun lalu dengan cepat menangkap si Tikus dan hendak membunuhnya. Si Tikus lalu memohon supaya diampuni. “Ampuni aku,” kata si Tikus. “Jika kamu mau mengampuni aku, suatu saat nanti akan kubalas kebaikanmu.” Singa tertawa, lalu melepaskan tikus itu.

Beberapa hari kemudian, saat sedang berjalan-jalan di hutan, Singa tertangkap oleh sekelompok pemburu, yang kemudian mengikat dia dengan tali-tali yang kuat. Para pemburu itu meninggalkan dia di sana, untuk diambil keesokan harinya, saat tenaganya sudah habis dan dia tidak bisa melawan lagi. Si Singa berusaha membebaskan diri, tapi tidak bisa karena tali-tali itu terlalu kuat. Dia pun mengaum untuk meminta tolong. Si Tikus mendengar auman si Singa dari kejauhan, lalu datang untuk membantunya. Dia menggigiti tali-tali yang mengikat Singa sampai putus.

Setelah si Singa terbebas dari perangkap para pemburu, si Tikus lalu berkata kepadanya. “Dulu kamu tertawa saat aku berkata bahwa suatu saat aku pasti akan membalas kebaikanmu. Sekarang sudah terbukti bukan? Aku, seekor tikus, bisa menyelamatkan kamu, seekor singa!”

Pelajaran yang dapat diambil dari dongeng ini: Kita tidak boleh meremehkan orang lain. Mungkin saja suatu saat nanti kita akan membutuhkan pertolongan darinya.

Dongeng ini diadaptasi dari cerita fabel karya Aesop yang berjudul “The Lion and The Mouse.” Dongeng ini diceritakan kembali oleh Devi.

Baca dongeng berikutnya : Singa dan Gembala

Singa dan Gembala

Seekor singa yang sedang berjalan-jalan di hutan tiba-tiba menginjak duri yang kemudian menancap di kakinya. Tidak lama kemudian seorang Gembala lewat. Si Singa menunduk, dan menggoyangkan ekornya perlahan, sambil menunjukkan kakinya yang tertancap duri itu, seakan-akan ingin berkata “Aku mohon, tolonglah aku.” Gembala yang pemberani itu lalu mendekat dan memeriksa kakinya. Dia menemukan duri yang menancap itu, lalu mencabutnya dengan hati-hati. Si Singa merasa lega karena duri yang menyakitkan itu sudah hilang. Dia lalu melangkah kembali ke dalam hutan.

Beberapa bulan kemudian, si Gembala mendapatkan masalah. Dia ditahan karena dituduh melakukan kejahatan yang sebenarnya tidak pernah dilakukannya. Dia lalu akan dihukum mati, dengan cara “dimasukkan ke kandang singa yang ganas.” Tapi ketika si Gembala dimasukkan ke dalam kandang singa, singa itu tidak menyerangnya. Singa itu bahkan mendekati si Gembala, dan menaruh kakinya di pangkuannya. Ternyata singa itu adalah si Singa yang pernah ditolongnya dengan mencabut duri dari kakinya.

Kejadian yang aneh itu beritanya menyebar ke seluruh kerajaan. Bahkan, sang Raja juga mendengar tentang kejadian itu. Dia lalu memerintahkan supaya si Singa dilepaskan kembali ke hutan, dan si Gembala dibebaskan dari hukuman.

Pelajaran yang dapat diambil dari dongeng ini: Kebaikan akan mendapatkan kebaikan sebagai balasannya.

Dongeng untuk anak ini diadaptasi dari fabel klasik karya Aesop berjudul “The Lion and the Shepherd.” Dongeng pendek ini diceritakan kembali dan ditulis oleh Ayunda.

Baca dongeng berikutnya : Keledai dan Kuda

Keledai Dan Kuda

Seekor keledai merasa iri dengan kehidupan seekor kuda, yang dirawat dengan baik oleh pemiliknya. Dia ditempatkan di kandang yang bersih, sering dimandikan, dan selalu diberi makan yang enak. Dia juga tidak pernah disuruh untuk bekerja. Sedangkan si keledai, dia harus bekerja keras setiap hari, mengangkut barang dan menarik gerobak yang berat. Dia tinggal di sebuah kandang yang jarang dibersihkan, dan hampir tidak pernah dimandikan. Selain itu, dia selalu diberi makan seadanya.

Tapi ketika terjadi perang, seorang tentara dengan persenjataan lengkap datang dan naik ke atas kuda itu, lalu menungganginya ke medan perang. Musuh jauh lebih kuat, dan tentara itu gugur. Kuda yang malang itu terluka parah, lalu mati di medan perang. Si keledai, melihat semua itu, lalu menyadari bahwa selama ini dia salah. Ternyata nasibnya jauh lebih baik dibandingkan kuda itu.

Pelajaran yang bisa diambil dari dongeng ini: Terkadang kita melihat orang lain, dan merasa bahwa dia lebih bahagia dan bernasib lebih baik dari kita. Padahal, kenyataannya, belum tentu seperti itu. Selain itu, pasti ada banyak orang yang nasibnya tidak sebaik kita. Jadi, marilah kita bersyukur dengan apa pun yang kita miliki.

Dongeng fabel yang singkat ini diadaptasi dari dongeng pendek klasik yang merupakan karya Aesop, yang berjudul “The Ass and the Charger.” Dongeng pendek ini diceritakan kembali dan isinya disesuaikan untuk anak-anak oleh Keisya.

Baca dongeng berikutnya : Babi Hutan Yang Jahat

Babi Hutan Yang Jahat

Seorang nenek yang miskin yang hanya hidup berdua dengan cucunya sedang mencari kayu bakar di hutan. Dia menemukan sebatang tebu yang hijau, lalu mengambilnya dan menaruhnya di antara kayu bakar yang telah dikumpulkannya. Tiba-tiba muncul seekor babi hutan yang merupakan jelmaan dari peri jahat. Babi hutan itu lalu meminta batang tebu yang ditemukan si nenek tadi. Tapi si nenek menolaknya, karena tebu itu akan diberikan ke cucu tersayangnya. Babi hutan itu lalu marah, dan berkata bahwa nanti malam cucunya lah yang akan dimakannya.

Si nenek pulang ke rumah, lalu duduk di dekat pintu dan mulai menangis tersedu-sedu. Dia tahu bahwa dia tidak akan bisa melawan seekor babi hutan yang merupakan jelmaan peri jahat itu. Ketika si nenek sedang menangis, seorang penjual jarum lewat di depan rumahnya. Penjual jarum itu merasa kasihan kepada si nenek. Dia lalu memberi si nenek satu kotak jarum. Si nenek lalu menancapkan jarum-jarum itu di bagian luar pintu rumahnya. Setelah itu, dia kembali duduk dan menangis. Tidak lama kemudian ada seorang nelayan yang lewat sambil membawa satu keranjang kepiting. Dia melihat si nenek menangis,
mendengarkan ceritanya, lalu memberikan separuh dari hasil tangkapannya hari itu karena merasa kasihan. Si nenek lalu menaruh semua kepiting itu di dalam sebuah toples kaca, dan menaruhnya di belakang pintu, lalu kembali duduk menangis.

Seorang petani lewat di depan rumahnya. Seperti orang-orang yang sebelumnya, dia juga merasa kasihan kepada si nenek, tapi dia tidak punya apa-apa untuk diberikan kepadanya. Tapi, dia bersedia meminjamkan sapi jantannya kepada si nenek. Entah apa gunanya, tapi setidaknya sapi jantan itu bisa menemani si nenek di rumah. Si nenek lalu membawa sapi jantan itu masuk ke rumahnya, mengikatnya di tempat tidurnya, lalu kembali menangis.

Beberapa jam selanjutnya, ada banyak orang yang datang dan memberikan bantuan kepada si nenek karena merasa kasihan. Seorang kurir meminjamkan kudanya, yang kemudian oleh si nenek diikatkan ke tempat tidur di samping sapi jantan. Seorang anak kecil yang baru saja menangkap seekor kura-kura yang suka menggigit juga meminjamkan kura-kura itu kepada si nenek, yang kemudian oleh si nenek diikatkan ke tempat tidur bersama sapi jantan dan kuda. Beberapa orang yang sedang membawa batu-batu besar untuk menggiling memberi si nenek sebuah batu penggiling besar, yang oleh si nenek lalu ditaruh di halaman belakang rumahnya. Seorang penggali sumur, yang ingin membantu tapi tidak bisa memberikan apapun, lalu menggalikan sebuah sumur untuk si nenek, di belakang rumahnya, di dekat batu penggiling besar. Dan yang terakhir, seorang penjual kertas, memberikan selembar kertas besar kepada si nenek, yang lalu oleh si nenek dibentangkan di atas sumur yang baru saja digali di belakang rumahnya itu.

Malam pun tiba. Si nenek masuk ke dalam rumahnya, dan mengunci pintunya. Dia lalu menaruh cucunya di tempat tidur, di sisi yang dekat dengan tembok, lalu berbaring di sisinya, sambil menunggu datangnya babi hutan jahat jelmaan peri yang tadi pagi mengancamnya. Babi hutan jahat itu pun datang. Dia lalu berusaha mendobrak pintu rumah si nenek, tapi terluka oleh jarum-jarum yang tertancap di pintu itu. Setelah pintu berhasil dia dobrak, dia sudah kelelahan dan haus, lalu minum air yang ada di dalam sebuah toples kaca. Tapi kepiting-kepiting yang ada di dalam toples kaca itu menggigit moncong dan telinganya. Untuk melepaskan gigitan kepiting-kepiting itu, dia berguling-guling di tanah. Setelah lepas, dia mendekati tempat tidur dengan marah. Tapi kura-kura yang suka menggigit tiba-tiba menggigit ekornya. Dia terkejut, lalu mundur, kemudian ditendang oleh kuda ke arah sapi jantan, yang lalu menendangnya kembali ke arah kuda. Babi hutan jahat itu berhasil melarikan diri ke halaman belakang rumah si nenek. Dia melihat selembar kertas yang bersih, lalu memutuskan untuk berbaring di situ untuk
beristirahat. Tentu saja dia lalu jatuh ke dalam sumur yang ada di bawah kertas besar itu.

Ketika si nenek mendengar suara dia jatuh, si nenek cepat-cepat ke dekat sumur dan mendorong batu penggiling besar masuk ke sumur itu. Si babi hutan jahat itu pun tertimpa batu penggiling yang besar itu dan tewas.

Dongeng ini diadaptasi dari cerita rakyat Cina, dan diceritakan kembali oleh Keisya. Gambar dari http://cactusss.deviantart.com/art/Evil-Boar-85166270.

Baca dongeng berikutnya : Pot Yang Retak

Pot Yang Retak

Dulu, ada seorang nenek yang mempunyai dua buah pot besar, yang digantungkan pada sebatang kayu, dan dia bawa di bahunya untuk mengambil air di mata air setiap hari. Salah satu pot itu sudah retak, sedangkan yang satunya masih utuh, dan selalu dapat dia gunakan untuk membawa air dengan baik. Sedangkan pot yang sudah retak, selalu menyisakan separuhnya saja saat dia tiba di rumah.

Setiap hari selama bertahun-tahun nenek itu mengambil air dengan menggunakan kedua potnya, dan sampai di rumah dengan air sebanyak satu setengah pot. Pot yang utuh sangat bangga dengan dirinya. Sedangkan pot yang retak merasa malu dan sedih, karena dia hanya bisa membawa separuh dari kemampuan sesungguhnya.

Suatu hari, pot yang retak berkata kepada si nenek. “Nek, aku malu, karena retak di tubuhku ini aku hanya bisa menampung sedikit air saja setiap harinya.” Si nenek tersenyum, “Apakah kamu tidak melihat, bahwa di sepanjang jalan dari rumah ke mata air, ada banyak bunga yang tumbuh di sisi yang kamu lalui, dan bukan sisi yang satunya? Itu karena aku sudah lama tahu tentang retak di tubuhmu. Dan aku sengaja menanam biji-biji bunga di sepanjang jalan, di sisi yang kamu lalui. Karena itu lah, selama bertahun-tahun aku bisa memetik bunga-bunga yang indah untuk hiasan di rumah. Jika tidak ada kamu, bunga-bunga yang indah ini tidak akan bisa tumbuh karena kurang air, dan rumah ini pasti kurang indah.”

Pelajaran yang bisa diambil dari cerita ini:

1. Semua orang pasti mempunyai kekurangan. Tapi, kita tidak perlu berkecil hati karena semua kekurangan kita itu lah yang membuat kita unik, dan membuat hidup ini menjadi lebih berwarna.

2. Saat kita menilai seseorang, jangan mencari kekurangannya, tapi carilah kelebihannya.

Dongeng ini diadaptasi dari cerita rakyat Cina. Ditulis oleh Keisya.

Baca dongeng berikutnya : Momotaro

Momotaro

Pada jaman dahulu kala hiduplah seorang pria dan wanita yang sudah tua. Pada suatu hari, si kakek pergi ke gunung untuk memotong rumput, dan si nenek pergi ke sebuah sungai untuk mencuci baju. Ketika sedang mencuci baju dia melihat sesuatu yang hanyut terbawa arus. Si nenek lalu menggunakan sebatang bambu untuk mengambilnya. Benda itu adalah buah persik yang ukurannya sangat besar. Si nenek cepat-cepat menyelesaikan mencuci baju dan pulang ke rumah. Dia berniat memberikan buah persik itu kepada suaminya.

Ketika si nenek memotong buah persik itu menjadi dua bagian, keluarlah seorang anak. Kakek dan nenek itu sangat bahagia, dan memberi nama anak itu Momotaro, yang artinya Anak Persik, karena dia memang keluar dari buah persik. Pasangan kakek nenek itu merawat Momotaro dengan baik. Anak itu pun tumbuh besar dan menjadi kuat. Kakek nenek itu senang sekali.

Momotaro menyadari bahwa ternyata dirinya jauh lebih kuat dibandingkan orang lain. Dia lalu memutuskan untuk
menyeberang ke sebuah pulau yang dihuni para iblis, mengambil kekayaan mereka, lalu kembali. Dia lalu membicarakan hal itu dengan kakek dan nenek yang merawatnya, dan meminta mereka untuk membuatkan kue kibidango. Dia menaruh kue kibidango itu di dalam kantungnya. Dia juga mempersiapkan banyak hal lainnya untuk dibawa selama perjalanannya., lalu berangkat.

Di perjalanannya, dia bertemu dengan seekor anjing, yang bertanya, “Momotaro! Apa yang kamu bawa di kantungmu?” Dia menjawab, “Ini kue kibidango yang paling enak yang ada di Jepang!” “Beri aku satu dan aku akan ikut denganmu,” kata anjing itu. Momotaro lalu mengambil satu kue kibidango dan memberikannya kepada si anjing, dan mereka melanjutkan perjalanan. Di perjalanan, ada seekor monyet, dan seekor burung, yang juga meminta sebuah kue kibidango, lalu ikut dengannya. Jadi mereka lalu melanjutkan perjalanan berempat.

Tidak lama kemudian, mereka tiba di pulau para iblis, dan mendobrak gerbang depannya. Momotaro yang masuk duluan, diikuti oleh tiga hewan temannya. Mereka bertemu dengan pasukan iblis, dan mereka melawan semuanya, sambil terus masuk ke dalam, sampai bertemu dengan pimpinan para iblis yang bernama Akandoji. Momotaro lalu bertarung melawan raja iblis itu.

Momotaro memenangkan pertarungan, dan mengikat raja iblis itu dengan sangat kuat sehingga dia tidak bisa bergerak. Raja iblis berkata kepada Momotaro bahwa dia bersedia menyerahkan semua kekayaannya. “Baiklah,” kata Momotaro sambil tertawa. Dia lalu membawa semuanya pulang, dengan dibantu oleh ketiga hewan yang menjadi temannya.

Kakek dan nenek sangat senang ketika Momotaro kembali dengan selamat, dan membawa harta yang banyak. Dia lalu mengadakan pesta perayaan yang sangat meriah, dan semua orang diundang, dan dijamu dengan sangat baik. Di perayaan itu, dia juga menceritakan tentang petualangannya kepada semua yang hadir. Momotaro lalu mejadi seorang pemimpin yang terhormat, kaya, dan sangat disegani.

Momotaro, cerita rakyat Jepang ini diceritakan oleh Keisya.

Baca dongeng berikutnya : Kancil dan Buaya

Kancil dan Buaya

Pada suatu hari, si Kancil yang cerdik sedang berjalan-jalan di hutan. Karena merasa haus, Kancil pun mencari sungai agar ia bisa minum. Ketika sedang minum, Kancil melihat kalau di seberang sungai ada banyak pohon ketimun, buah yang sangat digemarinya. Tapi sayangnya, arus sungai terlalu deras. Kancil tahu bahwa ia tidak mungkin berjalan atau berenang menyeberangi sungai itu.

Kancil pun berpikir keras. Ia mencari cara untuk menyeberangi sungai yang arusnya deras itu. Tiba-tiba ada sekelompok buaya yang berenang melewatinya. Kancil pun mendapatkan ide yang cemerlang. “Hai buaya buaya!” teriak Kancil dengan lantang. “Aku punya makanan untuk kalian!” lanjut Kancil. Para buaya itu pun berhenti dan salah satunya ke pinggir sungai mendekati Kancil. “Hmm, kamu benar, kamu lah makanan kami!” katanya. “Eit tunggu dulu,” kata Kancil. “Ini aku punya makanan yang sangat banyak, bahkan masih terlalu banyak untuk kalian semua,” lanjutnya. “Coba panggil teman-teman kalian yang lainnya, dan akan aku tunjukkan makanan itu,” kata Kancil.

Buaya tadi lalu memanggil teman-temannya yang lain, dan semuanya berkumpul di sungai itu. Karena banyaknya jumlah buaya yang berkumpul, sungai yang lebar dan airnya deras itu sampai hampir penuh. “Oke, sekarang aku harus menghitung jumlah kalian dulu supaya semuanya kebagian!” kata Kancil. Ia pun lalu melompat dari punggung satu buaya ke punggung buaya yang lainnya, sambil menghitung. “Satu, dua, tiga, empat, lima, enam,” dan seterusnya, sampai ia tiba di seberang sungai.

Sambil berlari pergi, Kancil pun berteriak, “terima kasih buaya-buaya, kalian sudah membantu aku menyeberang sungai!” Beberapa buaya marah karena sudah dibohongi, dan mencoba mengejarnya. Tapi mereka gagal karena Kancil sangat lincah dan cepat.

Kiriman dari : Keisya (keisya1990 @yahoo .com)

Baca dongeng berikutnya : Si Monyet dan Si Kura-kura

Si Monyet dan Si Kura-kura

Dahulu, hiduplah seekor monyet dan seekor kura-kura. Mereka adalah sahabat yang akrab. Tak pernah terpisahkan oleh jarak dan waktu. Setiap pagi, mereka selalu jalan bersama, makan bersama, semua selalu bersama. Suatu hari, mereka menemukan beberapa biji pisang. “Hei, Ra. Gimana kalau kita tanam biji pisang ini? Siapa tahu berbuah,” kata monyet. “Ya, ya. Ayo kita tanam biji pisang ini,” kata kura-kura semangat.

Mereka pun kembali ke rumah mereka masing-masing. Di rumah monyet, ia menanam biji pisang itu di halaman rumahnya. Tapi, monyet tidak rajin merawatnya. Terkadang seminggu sekali. Bahkan pernah dalam seminggu tidak dirawat sedikitpun. Maka, pohon pisang monyet masih kecil sekali. Sementara itu, kura-kura menanam pohon pisang itu dengan rajin. Dia selalu menyiramnya setiap hari. Akhirnya pohon pisang kura-kura sudah besar dan berbuah.

Monyet dan kura-kuraSuatu hari, monyet pergi ke rumah kura-kura. Dilihatnya pisang yang sudah besar dan matang. Kebetulan juga kura-kura meminta tolong pada monyet. “Sahabat baikku, maukah kau petikkan untukku pisang itu? Tenang saja, kau juga akan kubagi,” kata kura-kura. Dalam hati monyet, monyet senang. Tapi, ada suatu niat jahat. Dia akan memanjat pohon lalu memakan semua pisang kura-kura tanpa memberinya. “Baiklah, aku akan mengambilnya,” kata monyet. Monyet lalu memanjat pohon itu.

Begitu sampai di atas, monyet langsung memakan pisang yang ada di pohon itu. Kura-kura kaget dan marah. “Hei sahabatku! Mengapa kau makan pisangku?!” tanya kura-kura marah. Si monyet tak menghiraukannya lagi. Dimakannya semua pisang itu sampai kenyang. Tapi salah satu dari dahan pisang itu retak. Akhirnya dahan itu jatuh bersama monyet. Si monyet itu pun meringis kesakitan. Tulang punggungnya patah.

Kiriman : Ratih kusumaningtyas [kusumaningtyas.ratihkusumaning @gmail.com]. Image taken from : http://www.slideshare.net/funphonicsreaders/the-monkey-and-the-turtle-51094744.

Baca dongeng berikutnya : Asal Mula Rumah Siput